adbrite

Senin, 30 Mei 2011

Mamaku Super Hero

“sakit….ma” kataku pelan sambil saya berusaha untuk membuka mataku untuk melihat sekeliling saya. Saya melihat wajah mamaku yang cemas akan keadaan saya. Sekeliling saya dan mamaku dipenuhi oleh pohon pisang dan rumput- rumput liar. Dengan tergesa mamaku membopong saya melewati rumput-rumput yang setinggi lutut, melewati jembatan sungai yang hanya terdiri dua papan kayu kelapa dan lalu mengikuti jalur kereta api yang berbatu untuk ke jalan besar. Antara ketidak sadarnya saya merasakan air menetes di wajahku. Dan saya membuka mata dan melihat wajah ibuku yang penuh keringat dan dengan wajah meringis menahan beban berat badanku. Memang pada waktu itu cuaca lagi mendung dan awan sangat gelap, segelap awan di hati saya dan ibuku. Rumah kami tinggali ( rumah kepunyaan kakek ) terletak di jalan buntu. Untuk akses ke rumah. Hanya ada jalan kecil yang bisa di lalui sepeda dan motor, itu pun jalan yang memutar yang terlalu jauh untuk menuju jalan besar. Namum ada jalan pintas , jalan hutan. Jalan ini lah yang di lalui ibuku. Untuk secepatnya mendapat pertolongan dokter.
Entah kenapa hari itu saya tiba-tiba tidak tersadarkan diri . Deman saya sangat tinggi. Dan ayahku masih di pasar berjualan ikan. Dan kondisi saya di ketahui ibu. Dan ibu tanpa ganti baju dan membawa uang lalu mengendong ku antara 1 jam melewati perjalanan yang susah. Berlumpur, berbatu, dan naik turunnya jalan. Untukkk sayyaa.
Ma… Saya sangat sedih dengan penderitaan mama. Saya tahu tangan mama pada saat itu sangat kesakitan menbopong saya. Demi saya mama mau berkorban untuk saya, biar apa pun terjadi. Soalnya saya besoknya melihat ibu waktu menyuap saya. Tangan ibu masih gemetaran, memegang cangkir aja tumpah airnya. Mungkin efek dari memaksakan diri membopong saya. Dan juga melihat kaki ibu penuh lecet dan tergores oleh pohon dan ilalang yang liar……
Ma.. terimakasih yah. Nyawa ini telah terselamatkan atas kasih ibu.
Saya menpunyai 6 saudara. 2 perempuan dan 4 laki-laki. Kami sangat beruntung menpunyai ibu dan ayah yang sangat baik. Beliau menpunyai sifat yang jarang ada. Hidup ibuku penuh kasih, baik pada semua orang. Dari suku apapun , bila memerlukan pertolongan pasti di tolongnya. Setelah papa sudah bisa membeli rumah di pingiran kota. Setiap hari pasti ada kunjungan atau tamu untuk ibuku. Ada yang meminta pertolongan atau pinjaman uang pasti di layani sama ibuku.biarpun tak punya uang. Kadang-kadang ibu mengasih emas untuk di jualnya.biar ibu tahu pasti uang tidak akan kembali lagi.
Bagi ibu yang penting menolong orang. Tapi bila ketahuan uang untuk judi. Jangan harap kembali kerumah kami. Ibu ku tak pernah marah pada siapapun. Hidup selalu di hiasi senyum pada siapapun, kecuali pada anak- anaknya bila berbuat salah. Ibuku adalah pengusaha jahitan tepi baju untuk penjahit baju. Banyak penjahit yang meminta bantuan jahit tepi. Banyak yang meminta biaya jasa ibu, benang, jarum dan lain-lain akan dibayar bila baju sudah di bayar oleh pemesannya. Setelah usaha ibu sangat lancar karena kebaikkan ibu.
Tetangga mulai ikut-ikutan buka usaha yang serupa. Tahukah bagaimana sikap ibuku?. Malahan ibu mengajarinya teknik jahit dan bagaimana cara menjalankan usaha ini. Tetangga itu sering mendatangi rumah kami. Ayah saya sering marah pada ibuku karena kebodohan ini. Namum bagi ibuku ini bukan kebodohan.  Namum saling tolong menolong.
Biar bagaimana pun benang kasih sayang ibuku takan pernah putus, biar di tarik sekuat apapun. Itulah ibuku. Dan setelah kami menginjak sekolah menengah keatas. Kami pun di ajari bagaimana cara berdagang yang benar. Ibuku sering mengatakan layanilah pelangan dengan sepenuh hati ,jujur dan rajin. Karena pelangan yang mengasih kita keuntungan, sering-sering lah mengucapkan terimakasih kepada pelangan setelah transaksi usai.
Dan betul cara ibu. Usaha keluarga kami jadi sangat lancar. Kehidupan kami pun berubah. Tetangga mulai ikut membuka usaha yang sama juga, ibuku hanya terseyum manis, tanpa ada perasaan yang terbebani. Kata ibuku ” baguslah… Untuk meramaikan jalan ini” katanya tanpa merasa ada saingan. Sedangkan kita merasa ada yang mengekori pendapatan kita dan merasa tidak senang atas usaha tetangga. Apa lagi sering bertanya dimana membeli barang-barang yang kita jual. Malahan ibu sering jujur dan menunjukan tempatnya. Kesel… Mengapa ibu begitu baik dan jujur.
Ibu sering berkata pada kita. Bagaimana pun usaha itu tergantung atas kita. Bagaimana cara kita menghadapi langanan dan terpenting adalah ketekunan dan keranjinan kita.             
Beberapa tahun kemudian ibuku menderita sakit. Dan dokter mengatakan ibu terkena penyakit kanker rahim. Dan menyarankan untuk di lakukan pengoperasian. Lalu ibu dan ayah berunding untuk melakukan pengoperasian. Setelah di operasi memang ada kesembuhan, namum tiba-tiba dalam 5 hari, ibuku tidak bisa berjalan. Dan kami menanyakan kepada dokter, dokter hanya bilang ini hanya efek sementara. Namum kami menanyakan kepada dokter lain. Dokter mengatakan ada kesalahan pengoperasian kepada ibu.
Tahun demi tahun ibuku semakin lemah badannya. Dan kaki ibu terus mengecil Dan usaha ibuku menjahit pinggir pun berhenti total. Ibu sangat menderita akibat penyakit ini. Setiap hari terbaring di ranjang.
Dan berbagai dokter, sinshe dan dukun yang kami datangkan tidak mampu untuk menyembuhkannya. Kami terus berharap ada keajaiban dunia ini untuk menyembuhkan ibu ke kondisi sebelumnya. Namum harapan ini sia-sia belaka. Adik-adik saya dan kakak saya sangat telandan menjaga ibuku. Dan sangat menyayangi ibu.
Sedangkan aku…… Aku adalah pendosa. Tidak berbakti pada orang tua semasa hidup. Tidak pernah menjaga ibu semasa sakit. Padahal ibu adalah seorang pahlawan bagi saya. Tapi mengapa bisa saya lupakan semua ini sewaktu ibu masih ada.
Dan awan gelap menyelemuti kehidupan kami. Ibuku meninggal. Meninggalkan kami, yang masih memerlukan kasih sayang. Yang memerlukan pelukan ibu, yang masih memerlukan bimbingan ibu. Dalam 7 hari 7 malam air mata kami terkuras habis. Dan semua family,teman-teman ibu semasa hidup dan warga di daerah kami datang melayat.
Membuat aku sadar akan kehidupan ibu. Ibu yang penuh kasih pada sesama. Ibu yang menjadi ibu bagi semua orang tanpa membedakan suku.
Dan aku terpekur menatap tanah, dan terus membayangkan ibu. Ibu saya yang terseyum . Senyum yang memdamaikan hati saya. Dan saya berjanji akan meneruskan perjuangan ibu membimbing keluarga kami.
Kehilangan ibu, membuat dampak negatif terhadap adik saya. Kehidupan jadi agak berantakan, sering bolos sekolah dan suka melawan guru. terakhirnya tidak naik kelas. Namum pas ulang tahun kematian ibuku yang satu tahun. Akhirnya adik saya pun berubah total kembali. Seperti nya hari itu hari ibu mengulurkan tangan mengelus kepala adikku. Membuatnya sadar, harus menerima keadaannya. Masih perlu menempuh perjalanan panjang untuk melewati kehidupan ini. Aku menanggis bahagia melihat binar-binar kehidupan.
Dan kami berenam bergandengan tangan untuk menempuh kehidupan yang lebih baik. Dengan motivasi, inspirasi dan kebaikan ibuku. Dengan tangan ibuku yang tak terlihat. Kami menempuh kehidupan yang terbilang sukses. Kakak saya yang tertua adalah agen terbesar di kota besar. Kakak ke dua adalah pengusaha perkapalan. Abang saya adalah seorang design gambar komputer yang terkenal.. Dan kedua adik saya adalah pengusaha pertokoan yang merambah satu profinsi.
Terima kasih Mama….Engkau adalah Super Hero Bagi Kami. Karena Mama Menanam Bibit Kebaikan , Anak-anakmu telah memanen hasilnya.
Sent from my iPad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar